“Lagi asik lari, tiba-tiba notifikasi Strava muncul: ‘New PR on segment!’ Tapi pas dibuka, detailnya blur semua. Kamu penasaran, tapi juga bingung: apakah worth it bayar 79 ribu per bulan cuma untuk tahu kenapa 2 detik lebih lambat?”
Itu dilema klasik. Kamu sudah pakai Strava gratis bertahun-tahun, tiba-tiba ada rasa ingin tahu lebih dalam. Bukan soal iri lihat teman punya badge premium, tapi butuh data yang bikin latihan lebih efektif. Sebagai coach, aku paham banget perasaan itu. Mari kita breakdown bareng-bareng.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan dengan Strava Gratis?
Strava versi gratis itu seperti teman lari yang setia. Dia catat semua: jarak, pace, waktu, ketinggian, dan rute di peta. Kamu bisa kasih kudos, komentar, dan lihat feed aktivitas teman. Cukup untuk sekadar track progress dan bangun komunitas.
Tapi ada batasan. Segment leaderboard cuma nunjukkin 10 atlet teratas. Analisis pace dan heart rate terlihat sederhana. Kamu nggak bisa bikin goal spesifik atau lihat power analysis kalau pakai power meter. Ini bikin kamu penasaran, “Apa yang kurang?”
Keuntungannya jelas: gratis selamanya, nggak ada tekanan finansial. Cocok buat pemula yang fokusnya masih bangun habit, bukan optimasi performa. Kamu masih bisa ngerasain dopamine rush tiap kali dapat PR, meski nggak tahu detailnya.
Lalu, Apa Sih yang Ditawarkan Strava Premium?
Strava Premium (sekarang Strava Subscription) punya tiga paket: Free, Summit, dan Pro. Tapi fokus kita ke perbedaan utama antara gratis vs berbayar. Fitur unggulannya ada di tiga pilar: Analisis, Safety, dan Personalisasi.
Pertama, Deep Dive Analytics. Kamu bisa lihat pace zone, heart rate zone, power curve, dan segment performance analysis. Bukan sekadar angka, tapi grafik interaktif yang bikin kamu paham di mana kekuatan dan kelemahan.
Kedua, Beacon. Fitur safety yang share live location ke tiga kontak darurat. Kalau kamu suka trail run sendirian di hutan atau bikepacking ke daerah terpencil, ini bisa jadi penyelamat nyata.
Ketiga, Personalized Coaching. Kamu bisa set goal spesifik seperti “Sub-50 10K” atau “100K ride,” dan Strava bakal kasih rekomendasi weekly effort target. Bukan pengganti coach manusia, tapi cukup jadi guide awal.
Analisis Mendalam: Data yang Bikin Kamu Teriak “Aha!”
Bayangin kamu habis interval 5x1km. Di versi gratis, kamu cuma lihat pace rata-rata: 4:30/km. Tapi di Premium, kamu bisa zoom ke setiap interval, lihat pace split, heart rate recovery diantaranya, dan bandingkan dengan sesi yang sama sebulan lalu.
Data konkretnya: Power Curve menunjukkan maximal power yang bisa kamu tahan di durasi 1 detik sampai 3 jam. Ini goldmine buat cyclist yang mau nge-track improvement tanpa harus bayar TrainingPeaks. Akurasi? Cukup reliable kalau pakai power meter kualitas baik.
Untuk runner, Relative Effort score menggabungkan heart rate dan durasi, jadi kamu tahu apakah hari ini overtraining atau malah kurang stimulus. Ini mirip konsep Training Stress Score (TSS), tapi versi sederhana.
Segment & Leaderboard: Ego Booster vs Data Driver
Ini yang paling bikin rame. Gratis cuma lihat top 10. Premium buka semua posisi, plus filtered leaderboard by age, weight, followers. Kamu bisa jadi “king of the mountain” di kelompokmu sendiri, meski belum cukup cepat masuk top 10 global.
Tapi peringatan dari coach: jangan jadi budak leaderboard. Seringkali atlet kecil fokus gila-gilaan ke segmen 200 meter, malah lupa build aerobic base yang penting. Pakai data ini dengan bijak. Kalau setiap hari nge-push PR segmen, injury menunggu.

Safety & Social: Lebih dari Sekadar Pamer
Beacon itu bukan gimmick. Data dari Strava menunjukkan 70% user Premium merasa lebih aman berolahraga sendirian. Kamu bisa set otomatis, jadi tiap start activity, link live tracking dikirim ke keluarga.
Fitur lain: Group Challenges yang lebih kompleks. Bukan cuma “who ran most this month,” tapi distance challenge, elevation gain, atau even virtual race dengan leaderboard internal. Ini bikin komunitas kecil jadi lebih engaged.
Harga dan Value Proposition: Kalkulasi Realistis
Strava Premium di Indonesia sekitar Rp 79.000/bulan atau Rp 589.000/tahun (diskon 38%). Bandingkan dengan Peloton Digital (Rp 150rb/bln) atau TrainingPeaks (Rp 120rb/bln). Strava lebih murah, tapi fitur analisisnya juga lebih dangkal.
Pertanyaan kuncinya: Seberapa sering kamu akan pakai data itu? Kalau kamu hanya lari 2-3 kali seminggu tanpa target spesifik, itu buang-buang uang. Tapi kalau kamu preparing untuk marathon pertama, atau cyclist yang mau naik level, 79 ribu itu murah banget untuk motivasi dan insight.
| Fitur | Strava Gratis | Strava Premium | Worth It? |
|---|---|---|---|
| Activity Tracking | ✓ Lengkap | ✓ Lengkap | Gratis cukup |
| Segment Leaderboard | Top 10 only | Full + Filter | Ya, kalau kompetitif |
| Deep Analytics | Basic | Pace/HR/Power Zone | Ya, kalau punya target |
| Beacon Safety | ✗ | ✓ Live Tracking | Ya, kalau sering solo |
| Personalized Goals | ✗ | ✓ Adaptive Target | Tergantung disiplin |
Kesan dan Rasa di Tubuh: Perspektif Coach
Pas pertama kali upgrade, aku excited kayak dapat mainan baru. Tiap habis workout, aku duduk 10 menit cuma untuk analisis grafik. Tapi lama-lama, information fatigue muncul. Terlalu banyak data malah bikin bingung, bukan jelas.
Yang aku rasakan di tubuh: lebih aware sama recovery. Kalau Relative Effort score menunjukkan angka tinggi terus, aku berani cut back. Itu pencegahan overtraining yang nyata. Tapi aku juga pernah jatuh ke perangkap micro-obsession, sampai lupa nikmatin pemandangan saat trail run.
Untuk pemula, aku sarankan: pakai gratisan dulu minimal 6 bulan. Build habit dulu. Baru kalau kamu sudah konsisten dan punya goal konkret, pertimbangkan upgrade. Jangan biarkan FOMO nge-drive keputusan finansialmu.
Tapi, Apakah Worth It? Mari Kita Realistis
Jawabannya: depends on your “why”. Aku kasih tiga skenario.
- Scenario 1: Fitness Enthusiast (2-3x/week, no race) → Tidak worth it. Gratis sudah cukup. Investasi lebih baik ke sepatu baru atau kacamata anti-fog.
- Scenario 2: Age Grouper (training for PB) → Worth it. Analisis segment dan power curve bakal kasih edge tipis yang kamu butuhkan. 79rb sebanding dengan satu kali makan steak.
- Scenario 3: Solo Adventurer (suka jalan sendiri) → Worth it untuk Beacon. Ini soal safety, bukan performa. Harga untuk ketenangan pikiran keluarga.
Catatan penting: Strava bukan pengganti coach. Kalau kamu butuh personalization total, hire coach manusia. Strava cuma tool, bukan magic wand. Dan ingat, data is only as good as your ability to interpret it. Kalau bingung, konsultasi ke pelatih sertifikasi.
Kesimpulan: Upgrade dengan Tujuan, bukan Ego
Strava Premium itu seperti upgrade dari motor bebek ke motor sport: lebih cepat, lebih fitur, tapi butuh skill lebih untuk kontrol. Kalau kamu belum siap, malah berbahaya. Tapi kalau kamu sudah punya mileage dan goal jelas, itu percepatan yang menyenangkan.
Jadi, coba tanya diri sendiri: “Apa yang ingin aku selesaikan dengan data ini?” Kalau jawabannya jelas, 79 ribu sebulan itu investasi kecil. Kalau masih ragu, tunda dulu. Fitness itu marathon, bukan sprint. Nggak perlu buru-buru keluar uang untuk merasa “legit.”
Penting diingat: aplikasi paling canggih pun kalau digunakan tanpa rest and recovery yang cukup, hanya akan membawamu ke jalan injury. Dengarkan tubuhmu lebih keras daripada notifikasi app. Kalau ada rasa sakit yang tidak wajar, berhenti dan konsultasi ke fisioterapis atau dokter olahraga. Data itu asisten, bukan bos.




