“Makanan diet mahal, porsi kecil, dan rasanya kayak karton.” Itu dugaan paling umum sebelum nyobain layanan makanan sehat berlangganan. Tapi ternyata, YellowFit Kitchen datang buat nge-break stigma itu. Pertanyaan besarnya: apakah enak? Dan yang lebih penting, apakah berat badan ikut turun cuma dalam seminggu?

Sebagai coach, aku nggak pernah percaya janji “turun 5 kg seminggu”. Tapi aku percaya pada sistem yang bikin hidup lebih mudah, nutrisi terpenuhi, dan kamu tetap menikmati prosesnya. Nah, pengalaman seminggu penuh dengan YellowFit Kitchen ini aku tulis buat kamu yang penasaran apakah worth it atau cuma hype semata.

Apa Itu YellowFit Kitchen?

YellowFit Kitchen adalah layanan catering makanan sehat yang nawarin paket harian dengan konsep meal prep. Mereka punya beragam paket: dari yang fokus weight loss, muscle gain, sampai vegetarian. Semua makanan sudah dihitung kalorinya, dimasak, dan dikemas rapi. Tinggal heat and eat.

Poin penting: mereka nggak cuma sekadar masak makanan rendah kalori. YellowFit punya nutritionist yang merancang menu, jadi nutrisi makronutrien (protein, karbohidrat, lemak) dan mikronutrien (vitamin, mineral) tetap terjaga. Ini beda dari meal prep abal-abal yang cuma bikin nasi sedikit dan lauknya miris.

Pengalaman Nyata Seminggu Penuh

Aku ambil paket Weight Loss dengan target 1500 kalori per hari. Ini isinya: sarapan, makan siang, makan malam, dan dua kali snack. Total lima kali makan sehari. Oh iya, aku juga tetep minum air putih minimal 2 liter dan olahraga ringan 30 menit (jogging atau yoga) biar fair.

Hari 1: Antisipasi dan Kaget

Pengiriman datang pagi buta, tepat waktu. Dibungkus kardus ramah lingkungan, di dalamnya ada tas isotermis dengan cold pack. Pertama kali buka: wow, porsi ternyata lebih besar dari ekspektasi. Sarapan: nasi merah, telur dadar, dan salad buah. Rasanya? Gurih, enak, dan nggak kayak makanan diet.

Baca:  Alasan Saya Berhenti Langganan Classpass Dan Kembali Ke Gym Konvensional

Siang: ayam panggang saus barbeque, kentang panggang, dan sayuran. Malam: ikan nila bakar dengan sambal tomat homemade. Snack: granola dan puding chia. Semua enak. Tapi aku masih ragu, “ini beneran cuma 1500 kalori?”

Hari 2-3: Adaptasi dan Kenyang

Pada hari kedua dan ketiga, tubuh mulai adaptasi. Perut terasa kenyang, tapi nggak begah. Energi masih oke buat kerja dan olahraga. Yang paling aku suka: nggak ngantuk setelah makan siang. Biasanya kalau makan nasi padang atau fast food, pasti ngantuk. Ini nggak.

Oh iya, ada satu masalah kecil: kadang ada menu yang mengandung bahan yang nggak aku suka, kayak pare atau terong. Tapi untungnya, di aplikasi mereka ada fitur dislike list buat ngasih tau alergi atau makanan yang nggak disukai. Jadi minggu depan bisa dihindari.

Hari 4-5: Fluktuasi Emosi dan Tantangan

Hari keempat, aku mulai kangen makanan gorengan. Tapi ternyata snack granola mereka cukup nge-handle craving manis. Aku juga ngerasa lebih disiplin soal waktu makan. Nggak random lagi, makan kapan aja. Ini efek psikologis yang penting banget buat yang punya masalah binge eating.

Hari kelima, aku timbang berat badan. Hasil: turun 0,8 kg. Bukan 5 kg, tapi realistis dan sehat. Itu artinya defisit kalori bekerja, tapi nggak ekstrem. Aku juga ngerasa perut lebih rata, kembung berkurang.

Hari 6-7: Konfirmasi dan Kebiasaan

Dua hari terakhir jadi penguat kalau sistem ini beneran bisa dijadiin gaya hidup. Aku nggak merasa “terpaksa”. Makanan tetap enak, variasi menunya juga oke. Malam minggu, aku punya acara makan malam keluarga. Aku makan normal, tapi porsi lebih kecil. Tubuh udah terbiasa makan teratur, jadi nggak overeating.

Rasa & Kualitas Makanan: Apakah Benar Enak?

Secara konsisten, rasa makanan YellowFit Kitchen di atas rata-rata healthy catering. Bumbunya nggak pelit, masakannya nggak hambar. Mereka pake rempah alami, saus homemade, dan teknik memasak yang variatif: panggang, kukus, bakar, oseng.

Tapi ada beberapa catatan:
– Beberapa menu perlu tambahan seasoning secukupnya kalau kamu suka strong flavor.
– Tekstur ayam kadang sedikit kering (wajar karena panggang tanpa minyak berlebihan).
– Nasi merahnya legit, nggak keras. Ini poin plus banget.

Baca:  Review Creatine Monohydrate Optimum Nutrition: Efek Samping Dan Cara Pakai Yang Benar

Overall, untuk makanan sehat, nilai rasa: 8/10. Bukan michelin star, tapi jauh dari kata “miris”.

Dampak pada Berat Badan & Kesehatan

Hasil seminggu: turun 0,8 kg, perut lebih rata, energi stabil, dan kembung berkurang. Ini hasil yang sustainable, bukan water weight loss yang cepat naik lagi.

Yang lebih penting dari angka timbangan: aku ngerasa lebih baik. Tidak ada ngantuk berat, mood lebih stabil, dan pola makan jadi teratur. Ini efek dari nutrisi seimbang dan indeks glikemik rendah.

Ingat: Hasil tiap orang berbeda tergantung metabolisme, aktivitas, dan kondisi medis. Yang turun 0,8 kg seminggu itu sudah ideal. Kalau ada yang klaim turun 3-5 kg seminggu, itu red flag besar.

Keuntungan & Kekurangan Nyata

Keuntungannya:

  • Praktis banget: nggak perlu mikirin belanja, masak, atau hitung kalori.
  • Porsi decent: kenyang, tapi nggak kebablasan.
  • Variasi menu: setiap hari beda, jenuh dikit.
  • Komposisi nutrisi jelas: ada label kalori, protein, lemak, karbohidrat.
  • Dukungan konsultasi: bisa chat sama nutritionist.

Kekurangannya:

  • Harga: untuk kantong pelajar atau fresh graduate, bisa terasa mahal. Rata-rata per hari sekitar Rp 80.000-100.000.
  • Less flexibility: mau makan di luar? Uangnya tetep keburu.
  • Delivery area: belum semua area bisa dijangkau.
  • Personal taste: meski ada dislike list, variasi masih terbatas.

Tips & Rekomendasi dari Coach

Kalau kamu mau coba, ini saran dari aku:

  1. Mulai paket trial dulu: jangan langsung sebulan. Coba 3-5 hari buat lihat cocok nggak.
  2. Isi dislike list dengan jujur: jangan sampai kamu makan makanan yang kamu benci, itu bikin mental down.
  3. Tetep minum air: minum air putih 2-3 liter sehari. Bantu metabolisme.
  4. Jangan lupa gerak: makan sehat tanpa olahraga = lambat hasilnya. Cukup 30 menit jalan kaki.
  5. Dengar tubuh: kalau lapar banget, boleh tambah snack sehat. Jangan dipaksa.

Apakah Worth It?

Bagi kamu yang sibuk, nggak bisa masak, atau lagi dalam fase transisi gaya hidup, YellowFit Kitchen worth it. Ini sistem yang bantu kamu konsisten tanpa mikir ribet. Tapi kalau kamu punya waktu buat masak dan budget terbatas, belajar masak sehat sendiri lebih ekonomis.

Yang paling penting: jangan jadikan ini “jalan pintas”. Jadikan ini tool buat belajar porsi, komposisi nutrisi, dan pola makan yang benar. Nanti kalau udah terbiasa, kamu bisa terapkan sendiri.

Kesimpulan Coach: YellowFit Kitchen enak, praktis, dan hasilnya realistis. Tapi ingat, nggak ada makanan ajaib. Hasil akhir tetep di tangan kamu: konsistensi, olahraga, dan istirahat cukup. Kalau kamu punya kondisi medis khusus, konsultasi ke dokter atau ahli gizi dulu ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Efek Samping Pre-Workout Murah yang Harus Diwaspadai (Jantung Berdebar & Kulit Gatal)

Anda minum pre-workout sebelum latihan, tiba-tiba jantung berdebar kencang dan kulit terasa…

Kelemahan Gym Murah Non-Ac: Pengalaman Real Member Selama 6 Bulan

Pilihan gym murah non-AC sering jadi jawaban untuk mereka yang ingin mulai…

Review Member Celebrity Fitness Vs Gold’S Gym: Perbandingan Fasilitas Dan Harga

Pernah nggak sih lu berdiri di antara dua gym, bingung mau masuk…

Alasan Saya Berhenti Langganan Classpass Dan Kembali Ke Gym Konvensional

Pilihan latihan itu ibarat pacar: yang terlihat menarik di aplikasi belum tentu…