Pilihan latihan itu ibarat pacar: yang terlihat menarik di aplikasi belum tentu yang paling cocok untuk kehidupan nyata. Saya pernah jatuh cinta pada gagasan ClassPass—bebas pilih ratusan studio, tiap hari bisa beda kelas, rasanya seperti punya kunci ajaib ke dunia fitness. Tapi ternyata, kebebasan itu justru yang bikin saya kehilangan arah. Setelah dua tahun berlangganan, saya memutuskan kembali ke gym konvensional, dan itu bukan kekalahan. Itu pilihan terbaik yang pernah saya buat untuk konsistensi latihan saya.
Kenapa ClassPass Terasah Menarik di Awal
Bayangkan buka aplikasi dan lihat puluhan kelas: yoga di sini, boxing di sana, pole dancing untuk besok. ClassPass menawarkan variasi tanpa komitmen. Saya bisa coba tren terbaru tanpa terikat satu tempat. Itu sempurna untuk pecinta variasi seperti saya dulu.
Beberapa manfaat yang saya rasakan:
- Akses eksklusif ke studio-studio boutique premium tanpa harus bayar harga penuh per kelas
- Fleksibilitas lokasi: latihan dekat kantor, rumah, bahkan saat traveling ke kota lain
- Tidak ada rasa bosan: setiap minggu bisa jadwal baru, target otot baru, komunitas baru
Di bulan pertama, saya merasa produktif luar biasa. Tapi lama-lama, produktivitas itu mulai terasa seperti pressure.
Titik Balik: Kapan Saya Mulai Merasa Ada Yang “Off”
Masalah muncul secara halus. Saya mulai menghabiskan 20 menit setiap malam hanya untuk memilih kelas besok. Stres mikir: “HIIT lagi atau pilates? Studio A yang jauh 15 menit tapi instrukturnya bagus, atau Studio B yang deket tapi kelasnya terlalu mudah?”
Decision fatigue itu nyata. Saya kehilangan energi mental sebelum latihan dimulai. Frekuensi latihan saya turun dari 5 kali jadi 3 kali seminggu, bukan karena malas, tapi karena capek mikir.
Puncaknya saat saya terlambat cancel booking karena meeting dadakan. Kredit hangus, fee keterlambatan muncul, dan saya merasa lebih bersalah daripada saat melewatkan latihan di gym sendiri. Rasanya seperti dihukum karena hidup tidak bisa diprediksi.
Masalah Jadwal dan “Decision Fatigue”
ClassPass memaksa saya jadi planner handal. Tiap kelas punya jadwal ketat, slot terbatas, dan kebijakan cancel yang beda-beda. Saya harus booking 2-3 hari sebelum untuk kelas populer, tapi mood latihan saya bisa berubah dalam hitungan jam.
Hasilnya? Saya sering force-fitness: paksa tubuh ke kelas yang sudah dipesan padahal badan minta istirahat. Atau sebaliknya: tubuh fit tapi semua kelas bagus sudah penuh. Jadwal yang sempurna di kertas sering kacau di lapangan.
Hubungan dengan Instruktur yang Terputus
Di gym konvensional, instruktur tau saya. Mereka tau kalau saya sedang recovery bahu, tau kalau saya butuh push lebih untuk PR deadlift. Di ClassPass, saya jadi tamu. Instruktur tidak pernah ingat nama, apalagi history latihan.

Tanpa hubungan personal, feedback jadi generik. “Good job!” tanpa tau apakah saya sudah progres atau masih struggle. Progress tracking jadi tanggung jawab 100% saya, dan saya sadar saya tidak disiplin cukup untuk itu.
Perbandingan Nyata: ClassPass vs Gym Konvensional
Biar jelas, ini data konkret dari pengalaman saya selama 24 bulan:
| Aspek | ClassPass (2 tahun) | Gym Konvensional (6 bulan terakhir) |
|---|---|---|
| Frekuensi Latihan Rata-rata | 3.2 kali/minggu | 4.8 kali/minggu |
| Waktu Perjalanan per Sesi | 22 menit (berubah-ubah) | 12 menit (tetap) |
| Biaya Bulanan (termasuk fee) | Rp 850.000 – 1.200.000 | Rp 600.000 (flat) |
| Waktu Decision/Planning per Minggu | 45-60 menit | 5-10 menit |
| Hubungan dengan Pelatih | Superfisial | Personal & berkelanjutan |
Angka tidak bohong. Saya latihan lebih sering, lebih hemat, dan lebih fokus di gym konvensional.
Alasan Utama Saya Kembali ke Gym Konvensional
Keputusan balik bukan soal ClassPass jelek. Ini soal apa yang saya butuhkan untuk jadi konsisten. Tiga alasan utama ini mungkin bikin kamu mikir ulang juga.
1. Konsistensi vs Variasi: Mana yang Lebih Penting?
Sebagai coach, saya tau variasi itu penting. Tapi konsistensi adalah raja. Tubuh butuh stimulus berulang untuk adaptasi. Di gym konvensional, saya punya ritme: Senin leg day, Selasa cardio, Rabu upper body. Tidak perlu mikir.
Variasi masih ada tapi terkontrol: ganti mesin, ubah rep scheme, coba teknik baru. Itu cukup untuk hindari plateau tanpa bikin saya bingung.
2. Biaya yang Lebih Terprediksi
Di ClassPass, saya sering “tertipu” harga. 10 kredit terlihat murah, tapi kelas favorit butuh 12-15 kredit. Jadi saya top-up terus. Bulan sibuk? Kredit hangus. Bulan rajin? Kredit habis dan bayar extra.
Gym konvensional punya harga flat. Rp 600.000 per bulan, latihin sepuasnya. Saya bisa latihan 3 kali atau 7 kali, biaya sama. Itu mengurangi guilt dan bikin saya lebih fokus pada proses, bukan transaksi.
3. Lingkungan yang Mendukung Growth
Di gym konvensional, saya lihat orang-orang yang sama setiap minggu. Kita saling angguk, saling notice progress. “Deadlift lo naik 10kg dong!” itu feedback yang lebih bermakna daripada 100 likes di Instagram.
Ini bikin akuntabilitas alami. Malas-malasan? Ada teman latihan yang nanya kenapa absen. Ingin menyerah? Ada senior yang bilang, “Saya juga dulu gitu, coba ini tipsnya.” Komunitas itu nyata, bukan sekadar follower di app.
Apa yang Saya Lewatkan dari Gym Konvensional
Selain alasan logis, ada faktor emosional. Saya lewatkan rasa memiliki. Gym jadi my third place: bukan rumah, bukan kantor, tapi tempat di mana saya jadi versi terbaik diri sendiri.
Saya lewatkan fleksibilitas datang tanpa booking. Kalau tiba-tiba ada energi pukul 7 malam, saya cukup ganti baju dan pergi. Tidak perlu cek slot, tidak perlu takut penuh.
Saya juga lewatkan kemudahan progress tracking. Pelatih di gym tau saya angkat 60kg minggu lalu, jadi mereka bisa push saya ke 62.5kg hari ini. Di ClassPass, saya harus inget sendiri dan jujur, itu melelahkan.
Apakah ClassPass Itu Buruk?
Tidak sama sekali. ClassPass adalah alat hebat untuk orang tertentu. Kamu cocok dengan ClassPass kalau:
- Kamu sangat self-motivated dan disiplin tracking progress sendiri
- Kamu suka eksplorasi dan tidak butuh rutinitas ketat
- Lokasi kerjamu sering berubah, jadi butuh akses studio di banyak area
- Kamu baru mulai fitness dan ingin coba banyak hal sebelum commit
Tapi kalau kamu seperti saya—cenderung overthink, butuh struktur, dan value hubungan personal—gym konvensional mungkin lebih sustainable.
Sebagai coach, saya belajar bahwa yang paling efektif bukan yang paling keren atau variatif, tapi yang bisa kamu lakukan secara konsisten tahun demi tahun. Pilih sistem yang bekerja untuk kehidupanmu, bukan yang bikin hidupmu bekerja untuk sistem itu.
Kesimpulan: Mana yang Cocok untuk Kamu?
Jangan ikuti tren. Jangan ikuti saya. Dengarkan tubuh dan gaya hidupmu. Coba tanya diri sendiri:
- Apakah saya latihan lebih sering atau lebih jarang sejak pakai sistem ini?
- Apakah saya merasa energik atau justru stres saat planning latihan?
- Apakah budget saya stabil atau malah bengkak tiap bulan?
Kalau jawabannya bikin berseri, lanjutkan. Kalau bikin gelisah, mungkin saatnya pivot. Fitness adalah marathon, bukan sprint. Pilih sepatu yang paling nyaman, bukan yang paling keren.
Dan kalau kamu ragu, konsultasi dengan pelatih pribadi atau coba trial di gym dulu. Investasi 1-2 bulan untuk eksperimen jauh lebih murah daripada bertahun-tahun stuck di sistem yang tidak optimal. Kamu berhapat mendapatkan latihan yang bikin kuat, bukan bikin pusing.




